Setelah cukup lama kasih kode lewat beberapa single, Dongker akhirnya resmi melepas album penuh terbaru mereka, Melankolia Radikal. Album ini dirilis pada 28 Agustus 2026 dan jadi chapter baru buat band asal Bandung yang selama ini dikenal dengan energi garage punk yang berisik, liar, dan gak banyak basa-basi.

Tapi kali ini Dongker gak cuma ngajak pendengarnya buat jingkrak-jingkrak. Lewat Melankolia Radikal, mereka mencoba membongkar kesedihan dari berbagai sisi. Ada cerita personal, keresahan sosial, sampai kondisi lingkungan yang bikin kepala ikut penuh. Jadi, melankolia di sini bukan cuma urusan patah hati atau galau karena seseorang.

Album ini berisi 11 lagu yang dirangkai dengan karakter dan cerita masing-masing. Sebelum album penuh dilepas, Dongker sudah lebih dulu memberikan beberapa bocoran lewat “Takbir Terdengar Kejam”, “Lautan Bunga Warna Terang”, dan “Lagu Selepas Hujan”. Ketiganya seperti teaser buat melihat ke mana arah Dongker di album terbarunya.

Salah satu yang cukup menarik adalah “Lagu Selepas Hujan”. Dibandingkan materi Dongker yang biasanya penuh energi, lagu ini hadir dengan suasana yang lebih kalem dan reflektif. Tapi jangan salah, pembahasannya tetap gak jauh-jauh dari keresahan. Lagu ini menyentuh isu subsidi dan perubahan iklim, memperlihatkan kalau Dongker bisa ngomongin persoalan serius tanpa harus selalu membungkusnya dengan suara yang brutal.

Sementara itu, “Lautan Bunga Warna Terang” membawa cerita yang gak kalah berat. Lagu tersebut berkaitan dengan kisah revolusi di Pati dan menjadi salah satu contoh bagaimana Dongker menghubungkan musik dengan peristiwa sosial yang ada di sekitar mereka.

Ada juga “Nir-Imajinasi” yang menghadirkan Cholil Mahmud dari Efek Rumah Kaca. Kolaborasi ini jadi salah satu momen menarik di album karena mempertemukan dua generasi dan karakter berbeda dari musik alternatif Indonesia. Hasilnya pun menambah warna di tengah energi khas Dongker yang sudah lebih dulu dikenal.

Gak cuma urusan musik, bagian visual Melankolia Radikal juga punya cerita sendiri. Dongker menggandeng seniman Agan Harahap untuk menggarap artwork sampul album. Visualnya menggunakan foto sosok pria yang secara tampilan sangat mirip dengan Joko Widodo, yang sebelumnya dikenal lewat karya “Jokowi Punk”. Dongker kemudian memasukkan karakter Dollar sebagai elemen visual yang sudah cukup identik dengan mereka.

Pemilihan cover tersebut ternyata bukan keputusan yang muncul dari awal proses. Ide itu baru muncul setelah materi album hampir rampung, terutama ketika Dongker menyelesaikan lagu “Dolar”. Jadi, artwork-nya terasa seperti menemukan koneksi dengan musik setelah cerita di dalam albumnya sudah terbentuk.

Yang bikin rilisan ini makin menarik, Dongker juga gak sekadar merayakan album baru dengan acara launching biasa. Mereka membawa Melankolia Radikal ke ruang komunitas lewat rangkaian “Melankolia di Kolong” di Kolong Skatepark, Bandung.

Acara tersebut bukan cuma soal musik dan panggung. Ada juga aksi solidaritas dengan mengajak penonton membawa beras dan buku yang kemudian disalurkan kepada warga di beberapa kampung kota. Jadi, semangat DIY dan kolektif yang selama ini dekat dengan skena punk tetap dibawa ke dalam era baru Dongker.

Hal ini sebenarnya cukup menggambarkan bagaimana Dongker melihat musik mereka. Bukan sekadar kumpulan lagu yang selesai setelah masuk platform streaming, tapi juga sesuatu yang bisa terhubung dengan ruang, orang-orang, dan persoalan yang ada di sekitar.

Menariknya, meskipun materi mereka semakin luas, Dongker gak lantas meninggalkan identitasnya. Energi punk dan karakter mentah mereka masih terasa. Bedanya, sekarang ada lebih banyak ruang untuk bernapas, merenung, dan membicarakan hal-hal yang mungkin sebelumnya gak terlalu kelihatan.

Melankolia Radikal akhirnya terasa seperti versi Dongker yang semakin matang tanpa harus kehilangan sisi berisiknya. Mereka masih bisa bikin musik yang bikin kepala manggut-manggut, tapi di saat bersamaan juga ngasih bahan buat dipikirin setelah lagu selesai.

Karena ternyata, melankolia gak selalu harus ditangisi. Kadang bisa diteriakkan, ditertawakan, atau bahkan dijadikan alasan buat terus bergerak. Dan lewat Melankolia Radikal, Dongker memilih cara mereka sendiri untuk melakukan semuanya