Kalau lo pikir musik ekstrem nggak bisa tampil dengan pendekatan visual yang futuristik, tunggu sampai lo nonton video musik “Perangai Nadir” dari DeadSquad. Di lagu terbaru ini, unit death metal asal Jakarta itu nggak cuma nyuguhin sound yang berat dan kompleks, tapi juga membawa lo masuk ke dalam realitas digital nan distopia yang dirancang dengan pendekatan 3D art yang super intens. Ini bukan cuma video musik—ini adalah statement visual!
Brutal, Presisi, dan Masuk ke Dunia Virtual
“Perangai Nadir” dirilis sebagai bagian dari rangkaian menuju album baru mereka. Lagu ini sendiri udah jadi buktinya: tempo cepat, perubahan struktur yang kompleks, dan vokal growl dari Vicky Mono yang menekan emosi lo sampai dasar. Tapi yang bikin kita semua geleng-geleng adalah bagaimana mereka mengemas semuanya dalam video musik 3D yang nggak kalah ganas dari sound-nya.
Visual yang lo lihat di video ini dikerjakan oleh Wira Achmady, seorang 3D artist yang dikenal lewat pendekatan desain distopianya. Dengan latar dunia pasca-apokaliptik yang gelap, karakter-karakter digital yang alien dan tidak manusiawi, dan efek visual yang halus tapi penuh detail, lo akan langsung tahu: ini bukan sembarang video klip.
Simbolisme dalam Kekacauan
“Perangai Nadir” bukan cuma soal kekacauan dan ledakan visual. Di balik itu semua, ada narasi besar yang ingin dibawa. Lirik yang ditulis oleh Vicky menyuarakan kekecewaan pada sistem sosial, kemunafikan, dan kerusakan nilai. Video musiknya menyempurnakan pesan itu lewat simbolisme—mulai dari bentuk tubuh cacat yang direpresentasikan dalam karakter digital, sampai dunia yang terus berubah bentuk dan terasa tidak stabil.
Semua elemen visual ini nggak dibuat sembarangan. Justru, di balik kesan “nggak masuk akal” ada kepresisian artistik yang solid. Lo bisa lihat bagaimana kamera virtual bergerak dinamis mengikuti beat, cahaya ditata biar nuansanya makin kelam, dan detail-detail kecil kayak gerakan mata atau tekstur kulit karakter yang membuat lo lupa kalau ini semua dibuat di software 3D.
Musisi Metal yang Melek Teknologi
Di tengah era digital, banyak musisi berevolusi. Tapi nggak banyak yang bisa bikin karya ekstrem kayak DeadSquad tetap relevan sambil berinovasi secara visual. “Perangai Nadir” jadi bukti kalau genre death metal bisa berjalan bareng teknologi, bahkan menjadikannya medium untuk menyampaikan kritik sosial yang lebih kuat. Ini adalah kolaborasi musik dan teknologi visual yang nggak cuma keren, tapi juga punya pesan jelas.
Vicky Mono, yang kali ini juga turun tangan langsung sebagai sutradara video, menyebut bahwa proses kreatif ini jadi salah satu eksplorasi terjauh yang pernah dilakukan DeadSquad. Ia ingin menjawab tantangan zaman—gimana caranya menyampaikan keresahan lewat format yang relate sama audiens visual digital masa kini.
Langkah Besar untuk Scene Musik Ekstrim Lokal
“Perangai Nadir” bukan cuma kemenangan untuk DeadSquad. Ini adalah pencapaian buat scene musik ekstrem di Indonesia. Mereka menunjukkan bahwa kualitas produksi kita bisa setara dengan band internasional, dari sisi musikalitas maupun presentasi visual.
Yang jelas, video ini layak lo tonton lebih dari sekali. Setiap adegannya punya lapisan cerita yang bisa ditafsirkan dari berbagai sisi—baik lo penggemar musik keras, penikmat visual art, atau justru dua-duanya.
SIMAK PROSES BEHIND THE SCENE VIDEO MUSIKNYA PADA ARTIKEL SEBELUMNYA
Buat lo yang penasaran gimana proses kreatif dan eksekusi teknisnya, jangan skip artikel sebelumnya karena kita udah bahas langsung bareng Wira, 3D artist di balik karya visual gila ini!