Kalau ada pengumuman “kami berpisah dengan drummer kami”, banyak orang udah nggak kaget lagi. Entah kenapa, posisi ini kayak punya takdir paling rawan resign. Padahal tanpa drummer, band bisa berantakan total. Jadi sebenarnya, kenapa sih drummer sering banget jadi yang pertama angkat kaki?
Ternyata alasannya bukan cuma soal drama internal. Ada faktor fisik, mental, sampai peluang karier yang bikin posisi ini paling rentan.
1. Faktor Umur dan Fisik: Drummer Itu Atlet di Balik Panggung
Drummer bukan cuma musisi, tapi juga atlet. Setiap manggung, mereka literally cardio di atas panggung. Tangan kerja nonstop, kaki kanan-kiri injek pedal, badan ikut goyang jaga groove. Satu set bisa bikin baju basah kuyup.
Masuk umur 30 sampai 40-an, mulai terasa tuh efeknya. Sendi lutut, pergelangan tangan, punggung, belum lagi risiko gangguan pendengaran karena duduk paling dekat sama sumber suara keras. Sementara personel lain relatif “cuma” berdiri sambil main gitar atau bass.
Kalau stamina udah nggak sekuat dulu, pilihan realistisnya cuma dua: turunin intensitas atau cabut.
2. Drama Bongkar Pasang yang Nggak Ada Habisnya
Ini yang sering diremehkan. Setelah manggung selesai dan personel lain udah santai, foto-foto, atau ngopi bareng fans, drummer masih harus berurusan sama set drum.
Bongkar satu-satu. Lepas cymbal. Masukin tom ke tas. Lipat stand. Angkut hardware yang beratnya nggak kira-kira. Apalagi kalau venue-nya sempit atau harus naik turun tangga. Capeknya dobel.
Semakin bertambah umur, makin terasa ribetnya. Di titik tertentu, ada fase di mana drummer mikir, “Gue masih cinta musiknya, tapi nggak kangen sama angkut-angkutnya.”
3. Jadi Rebutan Band Lain
Fakta menariknya, drummer jago jumlahnya nggak sebanyak gitaris atau vokalis. Jadi begitu ada drummer yang solid, tight, dan punya attitude bagus, dia bisa jadi incaran banyak band.
Kalau ada tawaran dari band yang lebih mapan, lebih stabil secara finansial, atau lebih jelas arah kariernya, wajar banget kalau mereka tergoda. Apalagi kalau di band lama merasa kurang dihargai atau stuck.
Karena skill mereka langka, opsi pindah selalu terbuka. Dan ketika ada peluang naik level, banyak yang akhirnya memilih cabut.
4. Ngerasa Jadi Mesin, Bukan Kreator
Ini mungkin yang paling bikin jenuh. Banyak drummer cuma dianggap “penjaga tempo”. Tugasnya jaga ketukan, jangan ngebut, jangan ngaret. Udah, titik.
Padahal banyak drummer punya sense musikal dan ide kreatif yang kuat. Tapi kalau setiap latihan cuma disuruh “ikut aja”, tanpa diajak diskusi soal aransemen atau konsep lagu, lama-lama muncul rasa nggak dianggap.
Ketika merasa cuma jadi mesin gebuk tanpa ruang berpendapat, motivasi bisa turun drastis. Dan saat rasa memiliki terhadap band mulai hilang, keluar jadi opsi paling logis.
Pada akhirnya, drummer sering keluar bukan karena nggak loyal, tapi karena bebannya memang beda. Fisik paling terkuras, logistik paling ribet, spotlight paling minim, tapi tanggung jawab tetap besar.
Kalau lo punya band dan pengen awet, mungkin sudah waktunya berhenti nganggep drummer cuma penjaga tempo. Karena tanpa mereka, lagu lo bukan cuma kehilangan beat, tapi kehilangan nyawa.
ADA GAK BAND YANG 'NYAWA'-NYA ILANG PAS GANTI PERSONEL? KOMEN YA!