Suasana YESS Coffee & Eatery di Jalan Gatot Subroto, Bandung, mendadak berubah jadi ruang sidang paling seru. Kamis (23/7), DCDC Pengadilan Musik kembali digelar dan menginjak edisi ke-65. Kali ini, giliran The Changcuters yang duduk di kursi terdakwa buat mempertanggungjawabkan rekam jejak panjang mereka selama terjun di industri musik.

Format baru yang diterapkan sejak awal tahun 2026 bikin acara ini terasa makin intim. Di penghujung acara, The Changcuters tampil dengan format full band tanpa sekat pembatas dengan penonton, bikin seluruh audiens hanyut dan bersenang-senang dalam penampilan mereka yang intens banget.

Mulai pukul 18.30 WIB, Coklat Friends yang hadir dari berbagai kalangan. Mulai dari civitas kampus, pegiat komunitas, sampai Changcut Rangers garis keras udah antusias check-in pakai Passport DCDC. Tepat pukul 19.30 WIB, agenda persidangan dibuka oleh Panitera Yoga PHB yang membeberkan alasan serta latar belakang kenapa Terdakwa akhirnya harus "diseret" untuk diadili.

Satu per satu perangkat sidang masuk: mulai dari dua Pembela Terdakwa, Yas Budaya dan Kamal Ocon, disusul dua Jaksa kawakan di bidang musik Budi Dalton dan Pidi Baiq, sampai Yang Mulia Hakim Ketua Denny Chandra yang disambut ‘sakral’ oleh seluruh hadirin yang terlibat.

 

Adu Argumen Sengit yang Bikin Sakit Perut

Dua, hingga tiga ketukan palu dari Hakim resmi membuka persidangan. Tanpa basa-basi, Jaksa Penuntut langsung mencecar Terdakwa dengan pertanyaan yang cukup klasik tapi krusial: filosofi dibalik nama band. Hal ini dirasa sangat penting mengingat nama mereka yang telah lama melanglang buana di Negeri sendiri bahkan dikabarkan telah melintas untuk unjuk gigi ke tanah Britania Raya.

Sesi tanya jawab kali ini jauh dari kesan tegang. Justru, ruang sidang dipenuhi gelak tawa berkat lemparan candaan berbobot dari para perangkat sidang. Salah satunya pas Pembela Kamal Ocon, dengan gaya khasnya, menyeret perdebatan soal nama band terdakwa sampai jauh menembus peradaban Mesir Kuno!

Topik interogasinya pun merambah ke mana-mana: dari urusan visual, perjalanan karya, manajemen, sampai gaya berpakaian. Ada satu poin menarik saat Jaksa menyoroti konsistensi The Changcuters yang lahir di era garage rock revival, tapi selalu tampil klimis, rapi, dan seragam, kontras banget sama imej musisi garage rock yang biasanya lekat dengan gaya urakan.

 

Bukan Sekadar Lawakan, tapi Ruang Uji Karya yang Kritis

Meski dibumbui aksi kocak yang bikin perut kram, DCDC Pengadilan Musik tetap pada esensinya: menjadi ruang apresiasi, sekaligus uji karya yang sehat bagi para musisi lintas generasi. Di tengah gempuran algoritma media sosial yang sering kali menelan mentah-mentah semua karya/rilisan musik, acara ini hadir sebagai penyeimbang yang kritis tapi tetap santai.

Buat kalian yang penasaran seberapa seru dan rusuhnya persidangan kemarin, plus aksi panggung energik dari The Changcuters, langsung aja intip videonya di kanal YouTube DCDC. Jangan lupa drop pendapat kalian di kolom komentar, subscribe, dan pantau terus keseruan lainnya di semua akun sosial media DCDC. Sampai jumpa di Pengadilan Musik edisi berikutnya!